Galih Gumelar .com - Saudara-saudaraku ..., Dari Abdullah bin Salam RA, ia berkata “Ketika Rasulullah tiba di Madinah, manusia berebut menemuinya. Aku mencoba mencari kejelasannya, aku menjadi tahu kalau beliau bukanlah orang yang berwajah pembohong. Awal ucapan yang aku dengarkan darinya, ‘Wahai manusia! Tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan salatlah di malam hari ketika manusia tidur, maka kalian akan masuk surga dengan keselamatan“ (HR.Ahmad, Turmuzi dan Al Hakim).

    Ungkapan  yang mungkin dapat dikatakan sebagai  “GBHN = Garis Besar Haluan Nurani)“ Rasulullah saw ini menjadi pedoman dan telah diterapkan dalam keseharian kehidupan umat Islam saat itu. Hasilnya luar biasa. Sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW tidak pernah terjadi pertikaian,  apalagi yang berbau  anarkis dalam masyarakat Islam. Terkait dengan,  GBHN pertama, tebarkan  salam.  “Rasulullah saw bersabda“ Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.“  Kedudukan manusia yang bermanfaat dimata masyarakat seperti kata peribahasa, “Ia datang menggenapi, ia pergi mengurangi.“  Allah antara lain menyifatkan   manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya seperti dalam firman-Nya,  “Dan mereka mengutamakan (muhajirin) atas dirinya meskipun mereka  juga memerlukan.“  (Al Hasyr (59) : 9).  Salah satu contoh. Satu ketika Ibnu Umar menerima kepala kambing dari salah seorang  sahabatnya. Ia sebenarnya memang menghajatkan.

Tapi seketika ia teringat dengan temannya yang lain (A) yang lebih membutuhkan. Maka  Ia antarkan kesana. Betapa senangnya si A mendapat rejeki tidak terduga. Terbayang di benaknya gulai kepala kambing yang gurih. Tapi seketika  ia teringat dengan temannya (B) lebih memerlukan. Lalu ia antarkan pula kepala kambing itu. Pendek cerita, kepala kambing itu bergulir sampai kepada 7 orang sahabat, dan akhirnya kembali lagi ke Ibnu Umar. 

Masing-masing mereka berfikir, “Dia lebih membutuhkan daripada saya.“  Inilah salah satu semangat dari “Tebarkan  salam.“ Sebaliknya Rasulullah SAW mengingatkan, “ Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman.Tidak, demi Allah tidak beriman.“  Sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?“  Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tiak merasa aman dari kejahatannya“ (HR.Bukhari).

GBHN kedua, Marilah kita memberi makanan kepada sesama....  Orang, kalau perutnya lapar bisa berbuat nekat, apalagi kalau imannya lemah. Maka Nabi saw menganjurkan kepada setiap orang untuk gemar memberi makan orang. Begitu pentingnya perbuatan ini, terhadap sahabat yang paling miskin seperti Abu Dzar Al Ghifari pun Nabi saw tetap menganjurkan untuk melakukannya. “Wahai Abu Dzar, kalau  kamu memasak makanan yang berkuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikan tetanggamu, dan berilah mereka dengan cara yang baik“ (HR.Muslim). Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk memberi makan orang lain?“ Rasul saw menjawab, “Cukup dengan seteguk air putih“ (HR.Abu Ya’la, Ibnu Hiban). 

Dalam hadis lain, Nabi Mulia SAW ini bersabda, “Seorang muslim yang memberi makan kepada saudaranya seagama sampai kenyang, memberi minum sampai hilang dahaganya, dijauhkan oleh Allah dan dipisahkan dari api neraka dengan 7 parit. Lebar antara dua parit sejauh perjalanan 500 tahun“ (HR.Thabrani, Ibnu Hiban, Hakim dan Baihaqi).

    GBHN ketiga,  Marilah kita sambungkan  tali silaturrahim.  Terkait ini simaklah firman Allah, “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu“ (Ali Imran (3) : 159). “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat “ (Al Hujarat 10). 

Di dalam salah satu hadis Rasulullah disebutkan, silaturrahim bisa menyelamatkan kita dari bencana. Mari kita lihat ketika Rasulullah pertama kalinya menerima wahyu,dia didatangi satu makhluk yang sebelumnya tidak dikenal. Jibril datang dengan bentuk aslinya. Konon, yang dia tampakkan itu merupakan salah satu dari 600 bentuk yang dia  miliki. Jadi makhluk yang sangat aneh sekali. Tentunya Rasul kaget dan takut. Dia kembali dan sambil gemetar menceritakannya kepada isterinya, Khadijah. “Selimuti saya, selimuti saya, selimuti saya!” Maka dalam hadis saheh riwayat Bukhari, Siti Khadijah berkata, “Yang datang kepadamu itu bukanlah sesosok  makhluk yang ingin menjatuhkanmu, membinasakanmu dan mencelakakanmu. Engkau adalah sosok manusia yang selalu melaklukan silaturrahim.“

    Saudara - saudaraku ...., Qiyamul Lail, atau Salat tahajjud, adalah merupakan GBHN  ke empat. Walaupun hukumnya sunnah, tapi Rasulullah saw sangat menganjurkan kepada pengikutnya untuk istiqamah melakukannya. Rasulullah sendiri mewajibkan qiyamul lail atas diri beliau sendiri, sehingga beliau tidak pernah meninggalkannya,dalam keadaan dan suasana bagaimanapun, termasuk saat beliau sakit, saat dalan perjalanan, bahkan dalam suasana peperangan sekalipun. Begitu utamanya salat tahajjud, Allah swt telah menyebutkannya dalam beberapa surat dalam Al Quran antara lain, “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji “ (Al Israa 79). Samrah RA meriwayatkan, “Nabi Muhammad saw menyuruh kami melakukan salat tahajjud pada malam hari, baik secara singkat maupun lama, dan ditutup dengan salat witir“ (HR. Ibnu Umar). 

Oleh karena itu menjadi teramat jelaslah bahwa salat tahajjud memang merupakan anugerah yang berharga. Disamping menyenangkan Allah, salat ini juga menjamin keselamatan dari malapetaka dan menjadikan kita tenang dan jernih. 

Wallahualam. 

Sumber : Berbagai Litelatur

Posting Komentar

[DOA][hot][recent][5]

 
Top